Liputan Lintas Nasional

SIRAPI DKP2P Tuban Digitalisasi Manajemen Reproduksi Sapi untuk Dorong Produktivitas Peternak

TUBAN – persbhayangkara.com JAWA TIMUR

Pengelolaan peternakan sapi kini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan pakan dan kesehatan ternak. Ketepatan dalam menangani aspek reproduksi juga menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan.

Persoalannya, jadwal pemeriksaan kebuntingan, deteksi birahi, hingga tindak lanjut inseminasi buatan (IB) tidak selalu mudah dipantau. Ketergantungan pada catatan manual maupun ingatan peternak berisiko menyebabkan jadwal penanganan terlewat. Kondisi tersebut dapat berdampak pada terganggunya siklus reproduksi dan memperpanjang masa tidak produktif ternak.

Menjawab kebutuhan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban menghadirkan inovasi digital bernama SIRAPI (Sistem Informasi Reproduksi Sapi).

SIRAPI dirancang untuk membantu peternak dan petugas kesehatan hewan mengelola data serta memantau perkembangan reproduksi sapi secara lebih praktis, terstruktur, dan tepat waktu.

Kepala DKP2P Kabupaten Tuban, Eko Julianto, S.STP., MM., menjelaskan bahwa SIRAPI merupakan bagian dari upaya digitalisasi pelayanan kesehatan hewan, khususnya dalam mendukung manajemen reproduksi sapi.

Menurutnya, sistem tersebut mengintegrasikan berbagai informasi penting terkait reproduksi ternak, mulai dari pencatatan reproduksi, pemantauan kebuntingan, kelahiran, gangguan reproduksi, hingga fitur early warning system.

Fitur tersebut dapat membantu memberikan peringatan dini terkait perkiraan waktu birahi, keterlambatan perkawinan, maupun indikasi gangguan reproduksi atau kondisi majir. Dengan dukungan data tersebut, petugas dapat melakukan pemantauan dan pendampingan secara lebih tepat sasaran.

“Melalui SIRAPI, data reproduksi sapi dapat dikelola secara lebih terstruktur. Peternak dan petugas dapat mengetahui jadwal penting reproduksi ternak sehingga penanganan bisa dilakukan lebih tepat waktu,” jelas Eko.

Cukup Melalui Ponsel, Jadwal Reproduksi Lebih Mudah Dipantau

SIRAPI dikembangkan dalam bentuk aplikasi berbasis web sehingga relatif mudah diakses. Peternak dapat menggunakannya melalui peramban pada telepon pintar tanpa harus mengunduh aplikasi tambahan.

Pengguna cukup memasukkan sejumlah data dasar ternak, seperti identitas dan umur sapi, riwayat inseminasi buatan, serta informasi penanganan kesehatan. Data tersebut kemudian menjadi dasar bagi sistem untuk membantu memperkirakan jadwal penting dalam siklus reproduksi sapi.

Salah satu fitur yang menjadi bagian penting dalam SIRAPI adalah pengingat otomatis. Fitur ini membantu memberikan notifikasi ketika memasuki waktu pemeriksaan kebuntingan maupun saat diperlukan pemantauan atau deteksi birahi berikutnya.

Dengan adanya pengingat tersebut, peternak dan petugas kesehatan hewan memiliki acuan yang lebih jelas untuk melakukan tindak lanjut. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko keterlambatan penanganan yang berpotensi memperpanjang masa tidak produktif sapi.

“Teknologi ini kami arahkan agar benar-benar memberi manfaat bagi peternak. Bukan sekadar menghadirkan aplikasi, tetapi bagaimana data yang dimasukkan dapat membantu pelayanan kesehatan hewan menjadi lebih efektif,” ungkap Eko.

Penerapan SIRAPI tidak hanya memberikan manfaat dari sisi administrasi pencatatan, tetapi juga berpotensi mendukung efisiensi pengelolaan usaha peternakan.

Bagi peternak, pemantauan reproduksi yang lebih teratur dapat membantu mempercepat pengambilan keputusan ketika diperlukan pemeriksaan maupun penanganan. Efisiensi reproduksi pada akhirnya diharapkan dapat membantu mengoptimalkan pemanfaatan biaya pakan, perawatan, dan pemeliharaan ternak.

Sementara bagi petugas kesehatan hewan dan dokter hewan, tersedianya riwayat ternak secara lebih terstruktur dapat mempermudah proses pemantauan dan pelayanan. Data mengenai riwayat inseminasi, pemeriksaan kebuntingan, kesehatan, hingga gangguan reproduksi dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Digitalisasi tersebut juga dinilai relevan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Tuban dalam menjaga dan meningkatkan populasi sapi potong. Terlebih, populasi sapi potong di daerah tersebut disebut mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, penguatan sektor peternakan juga berkaitan dengan upaya menjaga ketersediaan sumber pangan hewani, termasuk daging merah, yang dibutuhkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Lebih dari sekadar aplikasi pencatatan, SIRAPI menunjukkan upaya penerapan teknologi digital pada persoalan yang bersentuhan langsung dengan aktivitas peternak sehari-hari.

Melalui sistem tersebut, pemantauan reproduksi sapi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada catatan manual atau daya ingat peternak. Informasi yang tersimpan secara digital dapat digunakan sebagai dasar pemantauan dan tindak lanjut secara lebih sistematis.

Eko menegaskan, DKP2P Kabupaten Tuban akan terus mendorong pemanfaatan teknologi yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan hewan dan produktivitas peternakan.

“Harapannya, inovasi seperti SIRAPI dapat semakin memudahkan peternak, memperkuat pelayanan kesehatan hewan, dan pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan peternak di Kabupaten Tuban,” pungkasnya.

Published : Zulkarnain

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Paling Populer dalam 30 hari

To Top